Bung Karno, Pancasila dan Endeh

- Senin, 6 Juni 2022 | 10:11 WIB
Masjid At Rabithah Ende (Aris Heru Utomo)
Masjid At Rabithah Ende (Aris Heru Utomo)

Bung Karno, Pancasila, dan Endeh

Setetes Permenungan dari Harlah Pancasila 1 Juni 2022 di Endeh


Muhammad Sabri, Direktur Pengkajian Kebijakan, BPIP 

Dan Endeh (BK lebih senang menyebut Endeh ketimbang Ende), diyakini secara ontologis sebagai wadah "candradimuka" dan akumulasi panjang embrio Pancasila yang mengalir dalam permenungan-permenungan BK sejak 1918-1945.

BK muda, di Surabaya (1918) telah karib dengan sejumlah pemikiran "ideologi" semisal Nasionalisme, Islam, dan Marxisme. Ini buah dari perjumpaannya dengan sejumlah pemuka pemikir saat BK _indecost_ di rumah "Bapak Kebangsaan" HOS Tjokroaminoto. Di rumah ini, BK berjumpa, berdiskusi, dan berdebat dengan Alimin dan Muso (kelak tokoh kunci PKI), Kartosuwiryo (DI/TII), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH Wahab Habullah (NU), dll. Secara embrio, ide dan prinsip "kebangsaan", "ketuhanan" dan "sosialisme" mekar dalam permenungan BK di Surabaya.

Di Bandung, ketika melanjutkan kuliah di ITB, BK bertemu dan berdialektika dengan tokoh² pemuka pemikir-penggerak "kebangsaan" diantaranya "Tiga Serangkai" yang sangat _brilliant_: dr. Wahidin Sudirohusodo, Ki Hajar Dewantara, dan Dowes Dekker. Paham "kebangsaan" dan "musyawarah" yang merupakan tabiat dasar masyarakat Nusantara, kian matang dalam relung-relung inteleksi BK..

Selanjutnya BK ke Yogyakarta. Di Kota Gudeg dan wilayah dimana Kraton _Ngayogyakarta_ tegak berdiri hingga kini, BK mendirikan Partai Indonesia (1926) yang berideologikan "Marhaenisme", di mana _visun_ perihal hakikat "manusia" dan pemihakannya yang teguh kepada kaum teraniaya, sungguh-sungguh terbit dan menginspirasi gerakannya.

Di Endeh (1934-1938) BK diasingkan. Tujuan Penjajah Kolonialisme Belanda hanya satu: menghancurkan mental BK hingga luluh lantak. Tapi sejarah bicara lain: justru Endeh, menjadi "rumah pemulihan" BK, wadah permenungan, ruang refleksi, dan tempat di mana BK melakukan proses transendensi-intelektual yang puncak. Embrio Pancasila yang jejak episteme-nya sejak di Surabaya, Bandung, dan Yogyakarta mekar, justru terakumulasi jenial di Endeh.

Setidaknya ada empat oase dan telaga permenungan BK di Endeh yang kelak menjadi "ilham" pidato "Lahirnya Pancasila" dalam sidang BPUPK 1 Juni 1945.

Halaman:

Editor: Aris Heru Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuliah Isran

Kamis, 26 Januari 2023 | 15:13 WIB

Belajar Dari Program Tritunggal Sepak Bola Jepang

Senin, 16 Januari 2023 | 23:22 WIB

Hari Ibu Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia

Kamis, 22 Desember 2022 | 06:15 WIB

Argentina, Juara Dunia dan Krisis Ekonomi

Rabu, 21 Desember 2022 | 05:07 WIB

Maroko dan Penaklukan Eropa di Piala Dunia 2022

Minggu, 11 Desember 2022 | 11:48 WIB

Belajar Dari Sikap Pantang Menyerah di Sepakbola

Sabtu, 10 Desember 2022 | 21:39 WIB

Piala Dunia 2022 dan Upaya Menjunjung Tinggi Hukum

Selasa, 22 November 2022 | 00:41 WIB

Rhapsody Anggi, Refleksi Kegigihan Mencintai Indonesia

Kamis, 17 November 2022 | 12:31 WIB

Mendadak 65

Minggu, 23 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Listrik dan Peradaban

Senin, 19 September 2022 | 10:24 WIB

Kemandirian Yang Disusupi Oleh Ketidakmandirian

Sabtu, 3 September 2022 | 10:30 WIB

Merawat Bangsa Bukan Dengan Slogan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 08:36 WIB

'Giman Plus' di Jakarta

Kamis, 28 Juli 2022 | 08:47 WIB

Semangat Chairil Anwar di Era Masyarakat 5.0

Minggu, 24 Juli 2022 | 19:25 WIB
X