Belajar Memperkuat Persaudaraan dari Foklor Komodo

- Minggu, 22 Mei 2022 | 06:35 WIB
Penulis dan Tommy F Awuy di Labuan Bajo (Aris Heru Utomo)
Penulis dan Tommy F Awuy di Labuan Bajo (Aris Heru Utomo)

SILANEWS - Tradisi lisan atau kerap disebut foklor merupakan salah satu tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia. Foklor adalah kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kebudayaan yang bersifat tradisional, tidak resmi, dan mencakup secara nasional.

Foklor yang mengandung cerita, mitos, legenda, dan dongeng, dan berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, menjadi salah satu kekuatan budaya Indonesia.

Melalui foklor kita dapat mengetahui tentang kearifan lokal (local wisdom), sistem nilai, pengetahuan tradisional (local knowledge), sejarah, hukum, adat, pengobatan, sistem kepercayaan, religi, dan astrologi, serta berbagai hasil seni yang hidup di tengah-tengah masyarakat.  

Foklor diceritakan dari mulut ke mulut dan secara turun-temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu contoh foklor adalah cerita rakyat seperti foklor komodo yang terdapat di Desa Komodo, Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Foklor dari satu-satunya desa yang berada di Pulau Komodo tersebut bercerita tentang hubungan antara manusia dengan manusia lain dan manusia dengan mahluk di sekitarnya yang hidup hingga saat ini.

“Masyarakat Desa Komodo percaya bahwa manusia dan Komodo memiliki hubungan bersaudara karena awalnya mereka adalah saudara kembar.” ujar Tommy F Awuy, Dosen Filsafat Universitas Indonesia dalam sebuah perbincangan malam ini dengan penulis di sebuah pendopo di tepi pantai Labuan Bajo, Sabtu (21/05/2022).

Sambil mendengarkan debur ombak, Tommy yang juga pendiri Yayasan Komodo di Labuan Bajo pun bercerita bahwa di Desa Komodo terdapat legenda yang menceritakan riwayat keberadaan komodo dan hubungan manusia dengan hewan tersebut.

Konon pada zaman dahulu kala, ada seorang putri yang  hidup di Pulau Komodo dan kemudian menikah dengan seorang pemuda dari seberang pulau.

Tidak lama setelah menikah sang putri pun hamil. Suatu malam sang putri bermimpi mendapat pesan agar sang suami tidak membunuh ular ketika sedang berburu. Sang suami pun berjanji untuk mematuhi pesan tersebut. Namun karena suatu hal dan keterpaksaan, tanpa disengaja sang suami membunuh seekor ular besar saat sedang berburu.

Halaman:

Editor: Aris Heru Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kuliah Isran

Kamis, 26 Januari 2023 | 15:13 WIB

Belajar Dari Program Tritunggal Sepak Bola Jepang

Senin, 16 Januari 2023 | 23:22 WIB

Hari Ibu Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia

Kamis, 22 Desember 2022 | 06:15 WIB

Argentina, Juara Dunia dan Krisis Ekonomi

Rabu, 21 Desember 2022 | 05:07 WIB

Maroko dan Penaklukan Eropa di Piala Dunia 2022

Minggu, 11 Desember 2022 | 11:48 WIB

Belajar Dari Sikap Pantang Menyerah di Sepakbola

Sabtu, 10 Desember 2022 | 21:39 WIB

Piala Dunia 2022 dan Upaya Menjunjung Tinggi Hukum

Selasa, 22 November 2022 | 00:41 WIB

Rhapsody Anggi, Refleksi Kegigihan Mencintai Indonesia

Kamis, 17 November 2022 | 12:31 WIB

Mendadak 65

Minggu, 23 Oktober 2022 | 16:26 WIB

Listrik dan Peradaban

Senin, 19 September 2022 | 10:24 WIB

Kemandirian Yang Disusupi Oleh Ketidakmandirian

Sabtu, 3 September 2022 | 10:30 WIB

Merawat Bangsa Bukan Dengan Slogan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 08:36 WIB

'Giman Plus' di Jakarta

Kamis, 28 Juli 2022 | 08:47 WIB

Semangat Chairil Anwar di Era Masyarakat 5.0

Minggu, 24 Juli 2022 | 19:25 WIB
X