• Kamis, 19 Mei 2022

Suasana Khas 'Kasepuhan Ciptagelar', Kampung Adat 10 Generasi yang Manjakan Mata Para Pengunjung

- Sabtu, 15 Januari 2022 | 20:00 WIB
Suasana khas 'Kasepuhan Ciptagelar', merupakan sebuah Kampung Adat di wilayah Sukabumi, Jawa Barat sangat memikat pengunjung yang singgah. (ciptagelar.info)
Suasana khas 'Kasepuhan Ciptagelar', merupakan sebuah Kampung Adat di wilayah Sukabumi, Jawa Barat sangat memikat pengunjung yang singgah. (ciptagelar.info)

 

SILANEWS - Suasana khas 'Kasepuhan Ciptagelar' yang merupakan sebuah Kampung Adat di wilayah Sukabumi, Jawa Barat ini sangat memikat pengunjung yang singgah.

Saat memasuki area 'Kasepuhan Ciptagelar ini, mata kita akan dimanjakan dengan asri dan indahya pemandangan sekeliling yang sangat alami. gunung, hutan, kebun dan sawah berundak.

Selain itu juga berjajar puluh­an rumah panggung berdinding kayu dan beratapkan rumbia atau kirai yang sangat khas.

Baca Juga: Penelitian Menunjukkan, Kejahatan Crypto Mencapai Rekor miliar pada Tahun 2021

Bangunan kecil bernama leuit atau tempat menyimpan padi dibangun saling berdampingan

Sehari-hari, kaum pria memakai pangsi de­ngan kepala terbungkus iket. Sementara kaum wanita mengenakan kebaya. Mayoritas masyarakat penghuni kampung adat adalah petani.

Kasepuhan Ciptagelar berada di kaki Gunung Halimun-Sa­lak dan masuk ke wilayah administrasi Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Baca Juga: Indonesia Berpeluang Besar dalam Pengembangan Metaverse Dunia

Dari pusat kota Palabuhanratu, lokasi itu bisa dijangkau dalam waktu sekira dua jam.

Setidaknya Kasepuhan Ciptagelar masih berada di lokasi itu sebelum turun wangsit guna menjadikan Kampung Gede sebagai pu­sat kasepuhan kembali pindah ke tempat baru untuk bermu­kim.

Generasi pertama tahun 1368 berasal dari Cipatat, Bogor. Sejak saat itu, ketua adat berganti secara turun-temurun dan kampung adat terus berpindah tempat.

Baca Juga: Era Metaverse, Menparekraf Sandiaga Ajak Generasi Muda Tingkatkan Kompetensi. Ini Alasannya!

Dari Cipatat Bogor beralih ke Lebak Larang, Lebak Binong, Tegal Lumbu, Pasir Jinjing, Bojong Cisono, hingga Sirna Rasa.

Terakhir, pada pertengahan 2001, dari di Kampung Ciptarasa di Desa Sirna­rasa, berpindah ke Desa Sirnaresmi yang berjarak sekira 12 kilometer.

Perpindahan itu mau tak mau harus dilakukan karena ber­bagai pertimbangan. Di Desa Sirnaresmi, tepatnya di Kampung Sukamulya, Abah Anom selaku ketua adat menamai Desa Ciptagelar sebagai tempat pindah baru.

Baca Juga: 15 Januari Hari Darma Samudera Memperingati Pertempuran Laut Aru Untuk Bebaskan Irian Barat

Halaman:

Editor: Yulyanto

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menelusuri Sejarah Pencak Silat yang Penuh Dinamika

Senin, 29 November 2021 | 14:00 WIB

Memetik Makna di Balik Perayaan Hari Ayah Nasional

Jumat, 12 November 2021 | 11:35 WIB
X