• Kamis, 19 Mei 2022

Ini Dia Beda Pidato Sukarno dan Suharto dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 10:20 WIB
gaya berpidato Sukarno dan Suharto (Aris Heru Utomo)
gaya berpidato Sukarno dan Suharto (Aris Heru Utomo)

Dalam kaitannya dengan peringatan Maulid Nabi Muhamamad SAW 1963, diksi yang digunakan Sukarno untuk menjelaskan makna peringatan Maulid Nabi juga jelas dan langsung tanpa bunga-bunga berlebihan. Coba simak kata-kata “Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammadnya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi. TIDAK” sebagai prolog sebelum menjelaskan mengenai makna peringata maulid Nabi.

Berbeda dengan Sukarno yang berapi-api dalam berpidato, Suharto terlihat jauh lebih tenang saat berpidato, tanpa mengacungkan jari telunjukan. Suharto disiplin dengan teks pidatoim yang disiapkan. Suharto memiliki gaya komunikasi controlling style atau mengendalikan.

Baca Juga: Mencermati Empat Masjid Berarsitektur Unik Dan Menarik

Suharto terlihat sangat mengontrol power kuat pada dirinya dan tidak perlu banyak bicara, tapi orang sudah paham mengenai apa yang dimaksudkannya. Sehingga tidak mengherankan kata -kata yang disampaikannya saat berpidato akan sama dengan yang tertulis di teks pidato.

Bahwa Suharto terlihat tidak berapi-api dalam berpidato juga tampak dari pemilihan diksi kata. Suharto misalnya pernah penggunaan kata "gebuk". Meski tidak dijelaskan maknanya, publik lantas memahami bahwa gebuk bukan berarti mengarah ke fisik. "Tapi imejnya lebih keras", misalnya dihabisi.

Mengenai penggunaan diksi yang tidak menggebu juga tampak dalam pidato peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW  pada 1 Maret 1977.

Baca Juga: Rumah Baca Botjah Angon, Revolusi Literasi Dari Pos Ronda

“bagi kita kaum muslimin yang hidup jauh di belakang Nabi, peringatan maulid Nabi seperti ini benar-benar akan memberikan arti dan makna yang dalam. Tidak saja secara rokhaniah akan tetapi juga secara sosial,” begitu antara lain cuplikan pidato Suharto. Perhatikan pilihan diksi soal peringatan Maulid Nabi tersebut, tampak datar dan mengarahkan peringatan maulid Nabi lebih terkait pada aspek rokhani dan sosial.

“Sesungguhnya, Nabi Muhammad s.a.w, bukan saja seorang Pemimpin Agama melainkan juga Pemimpin Masyarakat dalam arti yang luas. Beliau tidak hanya mengajarkan bagaimana seharusnya manusia berhubungan dengan Mahapenciptanya, Allah s.w.t, melainkan juga mengajarkan bagaimana sebaiknya mengatur hubungan sosial yang damai dan selaras antara manusia dengan sesamanya,” begitu kalimat Suharto selanjutnya.

Pada kalimat berikutnya tersebut, meski sama-sama menggarisbawahi peran Pemimpin, namun Suharto kembali lebih menekannya pada aspek sosial, beda dengan Sukarno yang cakupannya lebih luas. Tidak ada kata-kata yang meledak-ledak diawal penjelasan tapi lebih lembut. ***

Halaman:

Editor: Aris Heru Utomo

Artikel Terkait

Terkini

X