• Senin, 4 Juli 2022

Ini Dia Beda Pidato Sukarno dan Suharto dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

- Rabu, 20 Oktober 2021 | 10:20 WIB
gaya berpidato Sukarno dan Suharto (Aris Heru Utomo)
gaya berpidato Sukarno dan Suharto (Aris Heru Utomo)

SILANEWS – Sejak Indonesia merdeka pada 1945 setiap tahun peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu digelar di Istana Negara. Setiap tahun pula para Presiden RI, mulai dari Presiden Sukarno hingga Joko Widodo, menjabat menyampaikan pidatonya mengenai maulid nabi.

Pernyataan-pernyataan yang disampaikan para Presiden RI tersebut ciri masing-masing sesuai dengan karakteristik sang presiden dan personal branding mereka

Sukarno yang memiliki pembawaan tegas dan merupakan seorang orator ulung sejak muda misalnya, dalam menyampaikan pidatonya sangat berapi-api dan kerap mengangkat jari telunjuknya. Sukarno pun kerap berpidato tanpa teks, khususnya saat muda, dan pilihan diksi yang langsung.

Baca Juga: Gawat! Bupati dan Walikota Bekasi Mesti Terjun Ke Kali Jambe Nih

Simak saja pada pidato peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada  1963 seperti dapat disaksikan di sejumlah akun Youtube, beliau menyampaikan pidatonya dengan sangat berapi-api dan penuh retorika. Sehingga yang mendengarkannya pun dijamin tidaka akan terkantuk-kantuk.

“Kita sekarang merayakan Maulud, Maulud Nabi. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammadnya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi. TIDAK,” begitu diucapkan daslam pidatonya di Istana Negara. Kata menyentak ditekankan pada kata TIDAK.

Yang kita rayakan sebenarnya ialah Ajaran, Konsepsi, Agama yang Ia berikan kepada Umat. Diberi oleh Tuhan via malaikat Jibril kepada Rasul, Rasul meneruskan lagi kepada umat yaitu kita. Itu yang kita rayakan,” lanjut Bung Karno tanpa mengurangi nada dan volume suaranya.

Baca Juga: Tidak bisa Membangun Perpustakaan Besar, Bayu Membuat Perpustakaan Jalanan (Perpusjal). Keren!

Menariknya, meski saat menyampaikan pidatonya,Bung Karno tampak memegang teks, namun tidak terlihat membaca teks yang telah dipersiapkan. Kalaupun ada teks pidato yang dipersiapkan, kerap kali menyimpang. Seperti diceritakan mantan juru bicara Departemen Luar Negeri Ganis Harsono yang bertanggungjawab atas penyiapan pidato presiden pada peringatan KAA ke-10. Saat menyampaikan pidatonya, apa yang disampaikan Bung Karno berbeda dengan teks pidato yang telah disiapkan.

Halaman:

Editor: Aris Heru Utomo

Artikel Terkait

Terkini

Misi Gila Jokowi!

Sabtu, 2 Juli 2022 | 14:27 WIB
X