Mari Simak Tafsir Agamis dan Adat Budaya Mengenai Tumpeng

- Sabtu, 20 Agustus 2022 | 22:22 WIB
Tips agar nasi tumpeng kokoh dan tidak keras.
Tips agar nasi tumpeng kokoh dan tidak keras.

SILANEWS - Tumpeng kerap lekat dengan adat dan budaya Jawa, lengkap dengan aneka pemahaman mengenai Kejawen.

Padahal selain di Jawa, dan di pemukiman-pemukiman Jawa di belahan dunia manapun, tumpeng sejak lama juga digunakan oleh warga Bali dan Madura.

Tetapi dalam perkembangannya, makna-filosofi maupun perlambang bentuk-asal usul bahan-warna dan lain sebagainya dalam tumpeng dapat pula diubah menjadi Islami.

Baca Juga: Ke Banyuwangi Kurang Lengkap Tanpa Oleh-Oleh dari Gang Sempit di Kampung Mandar

Tumpeng (Jw) merupakan kependekan dari “tumapaking penguripan-tumindak lempeng tumuju Pangeran” yang artinya ‘penerapan penghidupan dan perilaku lurus tertuju kepada Sang Khalik’.

Bentuk kerucut tumpeng secara Islami dapat dipahami seperti itu. Atau dengan kata lain, berkiblatlah kepada pemikiran bahwa kehidupan manusia itu harus menuju jalan Allah

Tumpeng demikian tentunya harus didapatkan dari dan menggunakan bahan yang halalan toyibah, serta digunakan untuk kepentingan yang baik pula.

Nasi tumpeng dapat dibuat dengan bahan dasar nasi kuning, nasi putih, atau nasi uduk. Besar-kecilnya tergantung berapa orang yang hendak menyantapnya. Bahkan ada tumpeng kecil yang setara satu porsi nasi.

Baca Juga: Peremajaan Taman Satwa Taru Jurug, Gibran Rakabuming: Revitalisasi TSTJ Tidak Melenceng dari Konsep Awal

Halaman:

Editor: Aris Heru Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Asal Usul Perayaan Tahun Baru Imlek

Minggu, 22 Januari 2023 | 07:38 WIB

Memahami Filsafat Jalan Tengah

Rabu, 14 September 2022 | 06:00 WIB
X